Budaya budaya hanya sebatas itu? baiklah, sebelum penjabaran

Budaya Tepat Waktu Di Abad 21 Untuk Negeriku, Utopiskah? Anisa Apa yang terlintas di kepala saat rasa kata budaya? Tarian daerah, lagu daerah, permainan tradisional, baju adat, rumah adat, tradisi dari satu generasi ke generasi? Benarkah budaya hanya sebatas itu? baiklah, sebelum penjabaran judul semakin meluas, mari kita samakan persepsi terlebih dahulu perihal hakikat budaya.  Budaya secara etimologis berasal dari bahasa sanskertaay budayyah, yang berarti budi atau akal. Akal ini terbangun yang kita kenal sebagai pembeda antara kita dengan binatang. Burung boleh terbang karena punya sayap, namun dengan optimal akalnya, manusiapun bisa juga terbang meski tak punya sayap. Begituah, secara sederhana, budaya adalah hasil pemikiran yang merupakan cara hidup yang dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Budaya juga bisa diartikan sebagai pola hidup yang menyulukan yang sedang kompleks, abstrak dan luas. Dikatakan kompleks karena tersusun dari unsur yang rumit, tidak hanya melulu karya seni, bangunan, pakaian, perkakas yang penting kongkrit dan terjamah oleh kemampuan visual, namun budya jua terbentuk dari unsur yang kadang tidak tervisualisasikan dengan sangat jelas antara lain bahasa, adat istiadat, politik bahkan sistem agama. Dari sini, jelaslah sudah, kita tidak bisa mengkotak-kotakan definisi budaya sebatas hal yang berbau karya seni semata, namun lebih luas dari itu adalah suatu bentuk yang dilakukan secara serentak pada suatu daerah tertentu secara terus-menerus juga bisa disebut budaya. Budaya ini yang ingin saya bahas, budaya yang tidak tervisualisasi dengan sangat jelas dan sangat terasa di urat nadi mengingat waktu yang tepat. namun lebih luas dari itu adalah suatu tindakan yang dilakukan secara serentak pada suatu daerah tertentu secara terus-menerus juga bisa disebut budaya. Budaya ini yang ingin saya bahas, budaya yang tidak tervisualisasi dengan sangat jelas dan sangat terasa di urat nadi mengingat waktu yang tepat. namun lebih luas dari itu adalah suatu tindakan yang dilakukan secara serentak pada suatu daerah tertentu secara terus-menerus juga bisa disebut budaya. Budaya ini yang ingin saya bahas, budaya yang tidak tervisualisasi dengan sangat jelas dan sangat terasa di urat nadi mengingat waktu yang tepat.   Budaya tepat waktu di abad 21 untuk negeriku. Utopiskah? Begitulah kiranya pertanyaan besar yang melandasi penulisan esai sederhana ini. Karena esai adalah konsumsi kaum intelektual, maka mungkin lebih bijak kiranya saya tak perlu panjang lebar jelaskan apa itu budaya tepat waktu, karena sungguh tanpa referensi secara implisit pun, kita semua bisa meraba definisi dengan nalar, sederhananya ketika kita membuat janji pertemuan kita menepati janji dengan datang tepat pada waktu yang telah disepakati dalam janji kita. Itulah budaya tepat waktu. Ada masalah apa dengan budaya tepat waktu di abad 21 khusus untuk negeriku? negeri agraris yang ada sumber daya alam, yang mana kita menancapkan tongkat kayu dan batu di tanahnya kita akan memanen tanaman, yang kata orang ‘tanah surga’, ada masalah apa hal hal ini? Masalah besarnya adalah, negeriku ini juga belum bangun dari tidur lelapnya dan dari keterlenaan kemerdekaan, belum sadar jua memang abad 21 sudah benar-benar di hadapan, bahkan jika kita teliti, saat ini, tahun 2016, kita memasuki dasawarsa kedua pada abad 21.Abad 21 hadir untuk setiap dunia yang termasuk ke negeri ini dengan menawarkan suatu harapan besar tentang masa depan yang lebih baik dengan segala kepraktisan dan hal-hal instan yang menggiurkan, saat jarak, ruang dan waktu bukan masalah besar lagi dengan pesatnya teknolog terjamah oleh setiap kalangan. Abad 21 yang menawarkan suatu persaingan sengit antar warga di setiap negara. Namun, sungguh sayang, negeriku belum juga segala hal yang ditawarkan abad 21 ini, apatis dan tetap membudayakan suatu hal yang memang sudah melekat pada identitas negeri ini. Budaya tidak tepat waktu. Jam karet.  Ya berbiacara masalah tepat waktu, kita akan sangat malu pada negara-negara yang sebenarnya sumber daya alam jauh dibawah kita, namun secara indeks kebahagiaan hidup dan kesejahteraan penduduknya jauh di atas kita. Semisal Singapura dan Jepang. Untuk, memberi sensasi budaya ngaret ini melekat pada indonesia, mari simak penuturan seorang penduduk Jepang yang berdomisili di negeri kita, tepatnya di daerah Dago, Bandung. Dia sempat juga meginjakkan kaki untuk memberi inspirasi di kampus kita tercinta ini, UPI Tasikmalaya dalam sebuah acara nonformal yang diakadakan oleh komunitas bahasa UPI Tasikmalaya. Masamu Kamaga namanya. Saat sesi tanya jawab, ada peratnyaan yang sangat menggelitik, begini “Kak, Kamaga, apa perbedaan indonesia dengan Jepang?” Dan hal pertama yang dijawabnya adalah masalah waktu, begini lebih kurang jawabannya “yang paling penting terlihat adalah tepat waktu ya, saya benar-benar beradaptasi pada beberapa janji bertemu dengan orang indonesia, pasuk kesal juga, tapi lama-kelamaan sudah biasa. Di Jepang, saat jadwal diputuskan pukul sekian, kami sudah siap ditempat sekitar 20 sampai 30 menit sebelum waktu yang ditentukan. Kalo di sini …. “Dia sedikit tersenyum, mungkin khawatir menyinggung kami yang asli orang indonesia. “Disini, jika pukul pukul 09.00 WIB kumpul, maka saya mulai paham, berarti kita hadir pada rentang waktu 09.30 sampai 10.00 WIB.” Begitu katanya, dengan gaya bahasa indonesia yang masih kental dengan aksen Jepangnya Kamaga menjelaskan dan sedikit banyak menyadarkan kami “Iya juga ya. “Dia terus” Namun, terlepas dari itu, saya senang tingal disini, orangnya ramah-ramah, pada seneng foto selfie ya, kalo di Jepang foto selfie itu tidak se-populer disini, dan yang paling bagus itu kesenian yang sangat kental, saya senang. “Begitulah, lebih kurang penuturannya. Meski ada nilai budaya yang positif, namun tetap saja yang pertama kali disinggung dan paling kentara adalah jam karet indonesia.  Semangat dari budaya jam karet yang melekat pada idetitas indonesia, tulisan ini sungguh bukan untuk menampar seluruh warga indonesia, karena memang ada diantara kita, meski persentasi ini sangat sedikit yang sangat menghargai waktu dan anti jam karet. Tulisan ini sebagai tamparan untuk diri sendiri dan bahan instrospeksi untuk orang-oarng organisasi, betapa budaya jam karet kita sebagai generasi malas dan tidak disiplin. Saat kita masih melestarikan budaya satu ini, mungkin kita akan terus tertinggal dan terbelakang di tengah persaingan ketat negara-negara yang juga tengah berkembang di abad 21. Abad 21 dengan segala gemerlapnya teknlogi tak akan ramah pada kita yang kian hari kian malas, semogalah tulisan ini cukup menyadarkan kita terutama saya sendiri, betapa budaya tepat waktu memengaruhi pola pikir kita di era ini, betapa Indoneisa ingin bangkit dimulai dari generasi-genarai yang disiplin. Semogalah tulisan sederhana ini menjadi pemantik masing-masing dari kita untuk menjawab pertanyaan diatas dengan lantang. Budaya tepat waktu di abad 21 untuk negeriku, utopiskah? Tentu tidak. Bismillah kita mulai hari ini. Tasikmalaya, 23 September 2016.