Dinamika region has its own interesting dynamics to

Dinamika
Hubungan Negara dan Konflik di Kawasan Asia Timur

Lisa Viradian Permatasari

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Abstract

            The relations of the countries in
the East Asia region has its own interesting dynamics to study. Seen from the
relationship between countries in the region that tend to be less good but
contrary to the state relations in the region with countries outside the
region. Tensions between countries in the region caused frequent conflicts
within East Asia itself. The most frequent problems in East Asia are regional
disputes such as the territorial disputes between North and South Korea that
will be studied further in this paper. The data used in writing this essay is a
reference data which is then linked by the author himself to produce an essay
that can be accounted for.

            Keyword: dispute, conflict, power, East
Asia

Pendahuluan

            Kawasan Asia Timur merupakan salah
satu kawasan di benua Asia yang memiliki negara-negara yang kuat di bidangnya
masing-masing. Sebut saja China yang memiliki perekonomian yang maju dan juga
perkembangannya yang pesat, Jepang yang memiliki keunggulan di bidang
teknologi, Korea Selatan dan Korea Utara yang berdekatan namun tidak dengan
hubungan antar negaranya, dan juga Taiwan. Sebelum Perang Dingin berakhir,
peran kawasan Asia Timur ini masih belum dilihat serta dipertimbangkan
kekuatannya oleh negara-negara di kawasan lain. Titik balik Asia Timur sehingga
menjadi suatu kawasan yang tidak dianggap remeh serta patut diperhitungkan oleh
negara lain yaitu bermula dari pasca Perang Dingin.

            Pada pasca Perang Dingin ini, China
mulai menerapkan keterbukaan di bidang ekonomi. Keterbukaan ini ditandai dengan
dijalinnya kerjasama ekonomi oleh China dengan negara-negara di Asia Tenggara
seperti Indonesia dan Singapura. Upaya yang dilakukan oleh China tidak hanya
terhadap negara di luar kawasan, namun juga dengan negara di dalam kawasan
seperti Korea Selatan.1 Namun,
sebelum Perang Dingin berakhir, hubungan antar negara dalam kawasan Asia Timur
ini cukup baik namun hanya dalam hal perekonomian. Dengan kondisi perekonomian
kawasan yang cukup baik, kemudian negara-negara di kawasan Asia Timur
memutuskan untuk bergabung dengan berbagai organisasi internasional contohnya
Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) dan juga ikut berperan dalam ASEAN+3
yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan di Asia Tenggara dimana negara di
Asia Timur yang bergabung di ASEAN+3 ini yaitu Jepang, China dan Korea Selatan.

            Walaupun di kawasan Asia Timur ini
telah mengalami perkembangan atau kemajuan ekonomi, namun ada juga permasalahan
yang terjadi di dalam kawasan. Seperti permasalahan antara Korea Selatan dan
Korea Utara yang hingga saat ini terus berkonflik dan tidak bisa untuk
melakukan reunifikasi antara keduanya padahal kedua negara ini memiliki letak
geografis yang sangat dekat. Ketidakmampuan kedua negara untuk reunifikasi
disebabkan karena perbedaan latar belakang sejarah dan pandangan antara kedua
negara, kondisi internal kedua negara yang berbeda serta adanya program nuklir
yang dicetuskan oleh Korea Utara menyebabkan Korea Selatan enggan untuk
reunifikasi dengan Korea Utara. Permasalahan berikutnya datang dari Taiwan
dimana dalam hal ini China masih enggan untuk menerima dan mengakui Taiwan
sebagai negara yang berdaulat.2

            Namun, walaupun negara-negara di
kawasan Asia Timur sering melakukan kerjasama ataupun bergabung ke dalam
organisasi-organisasi internasional, mereka tidak pernah menjalin kerjasama
antar negara di dalam kawasan itu sendiri. Adapun kerjasama yang mereka lakukan
pasti terdapat peran dari negara kawasan lain. Hal ini merupakan bentuk
ketegangan hubungan yang dimiliki oleh antar negara dalam kawasan Asia Timur. Contoh
jelasnya adalah China yang lebih memiliki hubungan baik dengan negara di luar
kawasan daripada dengan negara dalam kawasan seperti Jepang dan Korea Selatan.
Hubungan tidak baik antara China dan Jepang yang hingga saat ini masih
berlanjut adalah perebutan kepulauan Diaoyu-Senkaku.3 Hal
inilah yang memicu ketegangan demi ketegangan hubungan antar negara dalam
kawasan Asia Timur.

Metode Penelitian

            Dari
essay ini, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana dalam jenis
penelitian deskriptif biasanya digunakan untuk menggambarkan atau mengetahui
fenomena secara luas atau umum. Sedangkan dari metode kualitatif, penulis
bermaksud untuk menndapatkan sebuah informasi yang sedang dibahas yang kemudian
akan dianalisis lebih lanjut menggunakan opini penulis sendiri agar mendapatkan
hasil yang relevan dengan isu yang dibahas. Informasi yang didapat yatu dari
sumber-sumber buku, artikel, jurnal serta sumber daring lainnya.
Informasi-informasi yang didapat ini yang kemudian dijadikan sebagai acuan atau
pedoman dalam menulis essay yang berjudul “Dinamika Hubungan Negara dan Konflik
di Kawasan Asia Timur” ini.

Dinamika Hubungan Negara di Kawasan
Asia Timur

            Negara-negara di kawasan Asia Timur
merupakan negara-negara besar yang maju dalam beberapa bidang. Hampir seluruh
negara dalam kawasan ini memiliki power masing-masing
untuk menunjukkan bahwa negaranya merupakan negara yang harus dipertimbangkan
oleh negara lain. Power yang dimiliki
negara ini tidak hanya berupa ancaman perang atau hard power namun juga soft
power. Kepemilikan power yang
tidak dapat dianggap remeh inilah yang mengakibatkan hubungan antar negara di dalam
kawasan Asia Timur ini cenderung tidak stabil. Hal ini dikarenakan karena
masing-masing negara dalam kawasan saling bersaing untuk berusaha menunjukkan
kemampuan serta kekuatannya di dalam sistem internasional. Biasanya, negara
yang memiliki power yang cukup besar
cenderung bersikap individualis dengan tidak mau menjalin hubungan dengan
negara yang dianggap dapat menjadi pesaing dalam berbagai hal, misalnya di
bidang politik dan ekonomi. Sikap individualis ini kemudian yang menjadi sebab
tidak adanya kerjasama yang dilakukan antar negara karena kerjasama tidak akan
mungkin membawa kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

            Power
yang dimiliki suatu negara tentunya sangat berpengaruh terhadap dinamika
hubungan antar negara dalam satu kawasan. Hal ini dikarenakan dengan power yang dimiliki, maka negara dapat
menentukan sikap serta kebijakan apa yang mereka buat dan butuhkan untuk
menjaga keamanan negaranya serta untuk mempertahankan power yang dimiliki oleh negara itu sendiri. Negara dengan power yang tinggi cenderung untuk
melakukan hal-hal atau kebijakan yang bersifat melindungi negaranya serta tidak
peduli dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh negara lain. Sedangkan
negara dengan power yang rendah
cenderung untuk melakukan hubungan berupa kerjasama untuk menyelesaikan
permasalahan di negaranya. Kerjasama yang dilakukan biasanya dengan
negara-negara yang dianggap mampu dan memiliki sumber daya untuk mengatasi
permasalahan yang ada yang dalam hal ini yaitu negara superpower. Mengapa negara superpower?
Hal ini karena negara yang memiliki power
yang cukup untuk membantu negara lain, biasanya mereka juga memiliki power untuk mempengaruhi negara lain
untuk melakukan apa yang negara tersebut perintahkan. Rasa takut yang timbul
dari negara-negara biasa terhadap negara superpower
juga biasanya mempengaruhi.

            Power
yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan Asia Timur ini terlihat dari
Republik Rakyat China (RRC) yang memiliki penduduk terbesar di dunia serta
kemajuan ekonomi yang pesat, Jepang dengan kemajuannya di bidang teknologi, dan
Korea Utara dengan kekuatan nuklirnya yang menjadi senjata utama negara untuk
mengancam negara lain.4 Dari
sini dapat disimpulkan mengapa negara-negara di kawasan Asia Timur cenderung
tidak mau bekerjasama. Kepemilikan sumber daya dalam masing-masing negara
dirasa sudah cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan negaranya sendiri tanpa
diperlukannya bantuan dari negara lain. Seperti Jepang dengan perkembangannya
di bidang teknologi yang cukup maju dimanfaatkan sendiri oleh Jepang sebagai
penyokong utama perekonomian negara. Selain itu dengan Korea Utara yang memiliki
kemampuan di bidang nuklir ini merupakan senjata ampuh untuk membuat negara
lain tidak memberikan ancaman kepada Korea Utara ini dikarenakan ketakutan
negara lain yang lebih besar jika mereka berani untuk menyerang Korea Utara.
Ditambah dengan kemajuan ekonomi China yang cukup pesat membuat negara lain
tidak akan penah meremehkan China dan justru membutuhkan bantuan dari negara
besar seperti China.

            Membahas mengenai hubungan yang
dijalin antar negara dalam kawasan, sebenarnya hubungan antar negara dalam
kawasan Asia Timur ini tidak berjalan sebaik hubungan dengan negara lain di
luar kawasan. Hal ini disebabkan karena latar belakang sejarah, perbedaan pandangan
dan juga kondisi internal suatu negara. Terlihat jelas dari hubungan China
dengan Jepang yang hingga saat ini belum juga membaik dikarenakan adanya konflik
perebutan kepulauan Diaoyu-Senkaku.5 Hubungan
antar negara dalam kawasan yang kurang baik tidak hanya dialami oleh China dan
Jepang, namun juga antara Korea Selatan dan Korea Utara yang notabene memiliki
letak geografis yang sangat dekat dan berbatasan langsung oleh daratan.
Ketegangan hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan ini disebabkan karena
ketidakmauan kedua negara untuk melakukan reunifikasi. Hal ini disebabkan karena
mereka menganggap kedua negara telah memiliki pemikiran dan pandangan yang berbeda,
ditambah dengan kondisi politik internal di kedua negara yang berbeda.
Ketidakinginan melakukan reunifikasi juga didorong oleh faktor Korea Utara yang
mencetuskan program nuklir yang pasti membuat Korea Selatan enggan untuk
bergabung menjadi satu negara dengan Korea Utara. Ketidakstabilan hubungan dan
politik dalam kawasan Asia Timur ini menjadikan negara-negara kawasan Asia
Timur tidak memiliki integrasi serta hubungan yang baik dalam berbagai bidang.

Konflik Kawasan Asia Timur

            Kebanyakan
konflik yang terjadi di kawasan Asia Timur adalah berupa sengketa perbatasan.
Hal ini terlihat dari beberapa sengketa perbatasan yang telah terjadi antar
negara dalam kawasan Asia Timur sendiri, yaitu:6 (1)
Konflik Cina-Jepang terkait pulau Senkaku, (2) Sengketa Cina-Korea Selatan
mengenai kepemilikan Liancourt Rocks, (3) Konflik Cina-Korea Selatan mengenai
batas wilayah perairan teritorial, serta (4) Sengketa Cina-Taiwan terkait
rencana reunifikasi seluruh wilayah Cina oleh RRC. Sengketa antara China dan Jepang terkait perebutan pulau Diaoyu
berawal dari adanya kekayaan berupa gas alam yang terdapat di kepulauan Diaoyu/Senkaku.
Jauh sebelum adanya kekayaan berupa gas alam yang ada ini, pada tahun 1985
Jepang telah menetapkan kekuasaan wilayah kepulauan Senkaku/Diaoyu secara legal
melalui sebuah Perjanjian yaitu Perjanjian Shimonoseki yang selanjutnya pada
tahun 1953 Jepang dituntut untuk menyerahkan kekuasaan wilayah tersebut kepada
militer Amerika Serikat.7
Namun tidak berhenti sampai sini karena berlanjut pada tahun 1972 berdasarkan
Okinawa Reversion Treaty yang menyatakan bahwa pulau tersebut dikembalikan oleh
Amerika Serikat kepada Jepang. Puncak permasalahan ini terjadi ketika China
secara tiba-tiba melakukan klaim terhadap pulau tersebut karena dianggap
kepulauan tersebut masih merupakan bagian dari wilayah China.8   

Konflik
selanjutnya yang sampai sekarang tak kunjung berdamai adalah antara Korea Utara
dan Korea Selatan. Ketegangan hubungan antara kedua negara ini berawal pada
masa akhir Perang Dunia II dimana pihak Amerika Serikat dan Uni Soviet membagi
Korea menjadi 2. Dari peristiwa ini menyebabkan ketegangan kedua negara semakin
meningkat hingga terjadinya Perang Korea. Alasan mengapa hingga saat ini kedua
negara terus mengalami ketegangan hubungan adalah karena antara kedua negara
tidak pernah membicarakan mengenai perjanjian perdamaian, oleh karena itu kedua
negara sama-sama menganggap bahwa masih dalam kondisi berperang. Walaupun
sempat muncul niatan bahwa kedua negara akan melakukan reunifikasi, namun
muncul kabar juga bahwa Korea Utara telah meluncurkan program nuklir. Hal ini
kemudian memicu kembali adanya ketegangan hubungan antar negara dan hingga saat
ini belum ditemukan solusi berdamai yang pas untuk kedua negara tersebut.         

Berbagai
isu persengketaan yang terjadi di kawasan Asia Timur ini tentunya memicu
ketidakstabilan kawasan itu sendiri. Namun perlu diketahui bahwa konflik yang
terjadi di kawasan Asia Timur ini bukanlah konflik terbuka berupa perang dan semacamnya,
namun hanya berupa ketegangan hubungan antar negara. Cara negara-negara dalam
kawasan untuk menghindari adanya konflik terbuka adalah dengan tidak adanya
intervensi dari negara lain di luar kawasan untuk ikut menyelesaikan
permasalahan negara. Juga adanya rasa saling membutuhkan antar negara mengingat
negara-negara di kawasan Asia Timur merupakan negara yang memiliki perekonomian
yang maju, sehingga hubungan perekonomian antar negara dalam kawasan tetap
terjaga terlepas dari adanya konflik berupa sengketa perbatasan. Hal inilah
yang kemudian dapat tetap menjaga kestabilan kawasan Asia Timur sendiri.

Kesimpulan

            Dinamika
hubungan antar negara dalam kawasan Asia Timur dan dengan negara luar kawasan
memiliki perbedaan. Hal ini terlihat dari ketegangan-ketegangan hubungan yang
terjadi antar negara-negara di dalam kawasan sedangkan seringnya menjalin
kerjasama dengan negara di luar kawasan. Namun, hal ini bukan tanpa alasan
melainkan hal ini disebabkan karena latar belakang sejarah, perbedaan pandangan
serta perbedaan kondisi internal suatu negara. Ditambah negara-negara di
kawasan Asia Timur merupakan negara dengan kondisi perekonomian yang meningkat
pesat sehingga negara-negara di kawasan Asia Timur cenderung mencari partner kerjasama dengan negara-negara
di luar kawasan untuk dapat mengembangkan sumber daya yang dimiliki.

            Sedangkan konflik yang terjadi di
kawasan Asia Timur sendiri didominasi oleh konflik berupa sengketa wilayah. Hal
ini terbukti dari sengketa China-Jepang terkait perebutan pulau Senkaku/Diaoyu
dimana kedua negara saling mengklaim bahwa wilayah tersebut merupakan
wilayahnya. Konflik yang terjadi juga bukan merupakan konflik terbuka yang
berupa peperangan, namun hanya berupa ketegangan hubungan dan juga
negara-negara di kawasan Asia Timur sangat membedakan antara kepentingan
ekonomi negara dimana hal tersebut merupakan kepentingan utama negara-negara
dalam kawasan dengan permasalahan seperti sengketa wilayah dan sebagainya. Solusi
penyelesaian sengketa ini dapat dilakukan dengan pertemuan bilateral antara
negara yang bersengketa dengan agenda yang jelas serta mengesampingkan ego
negara masing-masing.

 

 

REFERENSI

Balqis, Ratu Humairoh. “Perubahan Sikap
Cina terhadap Jepang di Era Hu Jintao terkait Konflik Perebutan Kepulauan
Diaoyu”. file:///C:/Users/USER-PC/Downloads/S1-2014-297378-chapter1.pdf
(diakses pada 17 Desember 2017)

Habibie, Ergy Ghulam. “Hubungan
Internasional Asia Timur”. http://ergy-g-h-fisip10. web.unair.ac.id/artikel_detail-47484-MBP%20Asia%20Timur-Hubungan%20
Internasional%20Asia%20Timur.html (diakses pada 17 Desember 2017)

Saviar, Yulyan Maharta. “Sengketa
Wilayah di Asia Timur”. http://yulyan-maharta-fisip13.web.unair.ac.id/artikel_detail-155155-SOH311%20MASYARAKAT%20
BUDAYA%20POLITIK%20ASIA%20TIMUR-Sengketa%20Wilayah%20di%20 Asia%20Timur.html
(diakses pada 17 Desember 2017)

S, Zulkadri. “Pengaruh Pengembangan
Militer Republik Rakyat China terhadap Stabilitas Keamanan Asia Timur”. http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle
/123456789/1170/BAB%20I.pdf?sequence=2 (diakses pada 17 Desember 2017)

Tentara Nasional Indonesia Angkatan
Laut. “Sengketa Perbatasan Antar Negara di Kawasan Asia Pasific”. http://www.tnial.mil.id/TroopInfo/PeneranganPasukan /tabid/104/articleType/ArticleView/articleId/42/Default.aspx
(diakses pada 17 Desember 2017)

           

1
Ergy Ghulam Habibie, “Hubungan Internasional Asia Timur”, http://ergy-g-h-fisip10.web.unair.ac.id
/artikel_detail-47484-MBP%20Asia%20Timur-Hubungan%20Internasional%20Asia%20Timur.html
(diakses pada 17 Desember 2017)

2 Ibid.

3
Ratu Humairoh Balqis, “Perubahan Sikap Cina terhadap Jepang di Era Hu Jintao
terkait Konflik Perebutan Kepulauan Diaoyu,” file:///C:/Users/USER-PC/Downloads/S1-2014-297378-chapter1.pdf
(diakses pada 17 Desember 2017)

4
Zulkadri S., “Pengaruh Pengembangan Militer Republik Rakyat China Terhadap
Stabilitas Keamanan Asia Timur,” http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1170/BAB%20I.pdf
?sequence=2 (diakses pada 17 Desember 2017)

5 Ratu
Humairoh Balqis, “Perubahan Sikap Cina terhadap Jepang di Era Hu Jintao terkait
Konflik Perebutan Kepulauan Diaoyu,” file:///C:/Users/USER-PC/Downloads/S1-2014-297378-chapter1.pdf
(diakses pada 17 Desember 2017)

6 Tentara
Nasional Indonesia Angkatan Laut, “Sengketa
Perbatasan Antar Negara di Kawasan Asia Pasific”, http://www.tnial.mil.id/TroopInfo/PeneranganPasukan/tabid/104/articleType/ArticleView/
articleId/42/Default.aspx (diakses
pada 17 Desember 2017)

7
Yulyan Maharta Saviar, “Sengketa Wilayah di Asia Timur”, http://yulyan-maharta-fisip13.web.unair.
ac.id/artikel_detail-155155-SOH311%20MASYARAKAT%20BUDAYA%20POLITIK%20ASIA%20TIMUR-Sengketa%20Wilayah%20di%20Asia%20Timur.html
(diakses pada 17 Desember 2017)

8 Ibid.