Perkembangan mereka yang menganggur atau sekadar ingin mendapat

Perkembangan teknologi dewasa ini perlahan-lahan telah merambah ke
ranah transportasi di Indonesia, dengan dimulainya start-up angkutan online. Kehadiran transportasi online dianggap
mendatangkan lebih banyak kemudahan dibandingkan dengan transportasi
konvensional. Namun, banyak pula pihak yang kontra akan legalitas layanan mobilisasi
berbasis online. Melalui tulisan ini akan diberikan rincian yang bertujuan untuk
menanggapi masalah pro dan kontra dari pemberian izin transportasi online. Hal utama
yang perlu diketahui tentunya adalah apa saja dampak yang ditimbulkan akibat
eksistensi transportasi berbasis online? Maka jawaban dari pertanyaan ini
nantinya akan dapat membantu menanggapi tujuan yang tersebut di atas.

II. Isi

Transportasi
online secara umum merupakan penyedia jasa untuk pemindahan manusia maupun
barang dari tempat asal ke tempat yang dituju dengan menggunakan media
pemesanan dari aplikasi pada mobile phone,
yang dikelola oleh perusahaan teknologi privat, atau non-pemerintah.

Kehadiran
transportasi online memberikan dampak yang berbeda kepada berbagai pihak. Dari sudut
pandang masyarakat sebagai pelanggan, kelebihan yang ditawarkan oleh jasa transportasi
alternatif ini adalah kepraktisan penggunaannya. Konsumen dapat dengan mudah membuat
pesanan dan menentukan tujuan, serta diberikan pelayanan yang nyaman,
perlindungan kecelakaan, dan tarif yang transparan1. Kemudahan ini
menjadikan penumpang dapat lebih efisien untuk mengatur waktu, dan merasa aman
dengan sistem yang dapat memantau rute perjalanan melalui aplikasi. Selain itu,
harga yang cenderung lebih murah dan pemberian banyak diskon memberikan
penumpang kepuasan tersendiri.

Dari segi
pengendaranya, tentunya transportasi berbasis online memberikan lapangan
pekerjaan bagi mereka yang menganggur atau sekadar ingin mendapat penghasilan
tambahan. Siapapun dapat bekerja pada layanan ini dengan hanya bermodalkan
kendaraan pribadi dan surat-surat izin mengemudi. Pengemudi juga dituntut
kompetitif dalam menerima pesanan, sehingga menjadikan daya kerja masyarakat
yang tinggi.

 

1 Priambada,
A. (19 Juni 2015). Pro Kontra Jasa Ojek Pangkalan dan Ojek Profesional. Diakses
pada 2 Desember 2017, dari https://dailysocial.id/post/pro-kontra-jasa-ojek-pangkalan-dan-ojek-profesional

 

Namun, kontra justru
datang dari pengemudi transportasi konvensional. Selain karena menurunnya
pendapatan akibat kehilangan pelanggan, pengendara transportasi online juga
dianggap tidak menaati peraturan yang ada. Aturan yang dimaksud seperti
membayar pajak, pemasangan plat kuning pada angkutan setara taksi, ketentuan
plat sesuai daerah operasi, serta penetapan argo dan tera. Sementara, selama
ini pengendara konvensional harus mengeluarkan biaya untuk mengurus semua
persyaratan tersebut agar menjadi transportasi umum yang legal2.

Dibalik pro dan kontra
tersebut, setidaknya ada beberapa informasi mengenai dampak positif transportasi
online terhadap negara. Ekonom Institute
for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati
mengatakan, hadirnya transportasi berbasis aplikasi menciptakan kesempatan
lapangan pekerjaan yang semakin luas. Hal ini terlihat dari data yang dirilis
oleh AlphaBeta pada tahun 2017, dimana
sekitar 43% dari mitra-pengemudi transportasi online yang disurvei, sebelumnya
tidak punya pekerjaan3. Selain itu, secara tidak langsung
transportasi online juga membantu pertumbuhan angka melek teknologi terhadap
masyarakat. Teknik pembayaran dengan metode cashless
seperti top-up dan kartu kredit, juga membuat kehadirannya membantu
Indonesia
memasuki revolusi industri keempat dan meningkatkan
sumber daya manusia. Di bidang keamanan, kebut-kebutan dan pelanggaran lalu
lintas juga dapat diminimalisir karena penumpang dapat memberikan penilaian
serta saran bagi para pengemudi.

Dari informasi di
atas, maka dapat diinterpretasikan bahwa secara umum transportasi online
memberikan dampak positif terhadap masyarakat Indonesia dengan membantu
kelancaran mobilisasi yang tidak didapatkan dari layanan transportasi
konvensional. Hal ini mungkin wajar mengingat beberapa nilai negatif dari tranportasi
konvensional, yaitu kondisi kendaraan yang terkadang sudah tua atau tidak
terurus, pengendaranya yang seringkali ugal-ugalan, fasilitas yang kurang
nyaman, waktu keberangkatan yang bergantung oleh pengemudi untuk menunggu
penumpang lain, serta jalur kendaraan umum yang tidak menjangkau ke seluruh
lokasi.

Isu ini
mendatangkan implikasi bahwa apabila pemerintah ingin memberikan izin terhadap
transportasi online, maka hal yang harus dibenahi adalah memperbaiki fasilitas
transportasi umum agar tetap dapat dipercaya masyarakat. Pemerintah juga harus
segera membenahi undang-undang mengenai angkutan jalan serta menetapkan pajak
dan harga yang pantas atas operasi transportasi online. Hal ini juga mengingat
layanan tersebut merupakan milik swasta, sehingga dikhawatirkan risiko akan
adanya monopoli harga dari pengelola sistem.

III. Penutup

Kehadiran transportasi online hendaknya dapat dimanfaatkan, bukan
ditentang. Bila pemerintah dapat memberikan regulasi yang tidak diskriminatif
bagi layanan jasa transportasi digital maupun konvensional, tentu keduanya akan
terus berjalan dan berkembang tanpa ada kelumpuhan di salah satu pihak. Menghambat
atau bahkan menghentikan laju pertumbuhan transportasi online adalah tindakan
yang akan merugikan negara dan penduduknya, karena kelebihan yang diberikan
dapat menunjang mobilitas masyarakat, yang berarti juga membantu perkembangan
ekonomi negara.